[Tertawa di dalam penjara]
Aku duduk sendirian di sudut ruangan, merenungi sesuatu yang bahkan sulit kugambarkan dengan kata-kata. Bukan karena aku tidak mampu memahami apa yang kurasakan, melainkan karena perasaan ini terasa lebih seperti misteri yang menyakitkan, paradoks yang tak terpecahkan. Perasaan ini seperti déjà vu yang tak henti-hentinya mengunjungi pikiran dan tubuhku. Pernahkah kita bertemu sebelumnya? Kau, aku, dan mereka—semua wajah-wajah yang hadir dalam hidupku, seakan-akan terhubung dalam siklus yang tak bisa kujelaskan.
Hati kita—hancur, utuh, mati, hidup—semua kata itu bergema di dalam diriku. Seringkali aku bertanya-tanya, apakah hati manusia sebenarnya pernah berada di satu kondisi yang tetap? Ataukah kita semua hanyalah pecahan perasaan yang berkeliaran di dunia ini, berusaha menyatukan bagian yang terserak? Hati kita hancur, bukan karena patah, apalagi remuk. Hati kita utuh, bukan karena kuat, apalagi kokoh. Begitulah aku memahaminya, seolah-olah perasaan itu tidak pernah bisa disederhanakan. Mereka hidup di dalam paradoks, sama seperti eksistensi kita yang terperangkap di dunia ini.
Setiap kali aku merasa segala sesuatu tampak hitam atau putih—benci atau cinta, ramai atau sepi—aku segera dihadapkan dengan kenyataan bahwa hidup tidak sesederhana itu. Apakah kau juga merasakannya? Ketika semua itu terjadi secara bersamaan, bukankah hal-hal yang kita pikir saling bertolak belakang justru mulai terlihat saling berdampingan?
Aku pernah berpikir dunia ini adalah tempat yang nyata, namun semakin aku berjalan di dalamnya, semakin terasa bagiku bahwa segala yang ada di sini hanyalah canda tawa semesta yang tak pernah serius. Aku tertawa, tapi ada sesuatu yang hampa di baliknya. Tidakkah kau pahami bahwa eksistensi dunia ini adalah sebuah paradoks, teka-teki yang takkan pernah kita pecahkan? Semuanya berjalan seolah-olah hidup ini sungguh-sungguh, padahal mungkin kita semua hanyalah lelucon yang belum selesai.
Malaikat hanya memiliki kebaikan di dalam hatinya, begitu pula Iblis yang hanya memiliki kejahatan di pikirannya. Tapi kita? Kita manusia biasa. Tidak seperti malaikat yang diciptakan untuk menjalankan kebaikan, dan tidak pula seperti Iblis yang sudah ditetapkan untuk membawa keburukan. Kita berada di tengah-tengah, di antara kebaikan dan kejahatan, tanpa panduan pasti. Aku pikir, kita bukan hanya terjebak di dalam tubuh kita, tetapi juga dalam aturan-aturan yang telah ditetapkan sejak lama—hukum Fisika, Biologi, Kimia, dan tentu saja hukum Agama. Semuanya seakan membatasi gerak kita, menutup setiap jalan yang ingin kita tempuh dengan bebas.
Namun bukan hanya itu. Manusia, yang seringkali merasa besar, menciptakan hukum-hukum tambahan: hukum moral, etika, bahkan hukum bernegara. Semua itu, ironisnya, tidak hanya menambah belenggu yang kita kenakan, tapi juga memberikan kebebasan yang membuat kita berpikir bahwa kita punya kendali.
Pernahkah kau bertanya-tanya, seperti aku, apakah kita sudah terdefinisikan di kehidupan sebelumnya? Mengapa aku merasa pertemuan ini telah terjadi? Mengapa aku merasa segala yang terjadi di hidup ini hanyalah pengulangan yang tak pernah berhenti? Siklus déjà vu ini semakin menguat, setiap hari semakin dalam.
Aku tahu rasanya, ketika semua pancaindra bergetar. Melihat wajah yang rasanya sudah pernah kulihat sebelumnya, mendengar suara yang entah kenapa terdengar akrab di telingaku, mencium aroma yang seperti terjebak di antara kenangan dan kenyataan. Sentuhan hangat yang pernah kurasakan... pernahkah kita menyentuh kehidupan ini bersama-sama, di waktu yang lain?
Tapi yang paling menyiksa adalah pertanyaan ini: mengapa aku terus bertanya tentang perasaan yang sudah aku ketahui jawabannya? Mencintai, namun tidak bisa. Bukan karena aku tak mau, melainkan karena aku tak mampu. Karena aturan sudah ditetapkan. Tidak ada yang bisa mengubahnya.
Aku ingat seorang filsuf Cina pernah berkata bahwa kau akan menemukan kebaikan di tempat yang paling bejat sekalipun, dan kebejatan di tempat yang paling baik sekalipun. Namun bagaimanapun juga, hitam tetaplah hitam, putih tetaplah putih. Minyak tidak pernah menyatu dengan air. Mereka bisa hidup berdampingan, tapi mereka tidak pernah bisa menyatu.
Lalu, bagaimana dengan perasaan ini? Perasaan yang membebaskanku dari segala aturan itu? Bukankah perasaan memiliki caranya sendiri untuk mencampur segala sesuatu? Cinta dan kebencian, kebahagiaan dan kesedihan, mereka berputar tanpa peduli pada hukum-hukum yang mengikat manusia.
Itulah sebabnya aku merasa bahwa hatiku yang patah bisa sekaligus utuh, dan hati yang kokoh bisa tiba-tiba hancur. Tidak ada logika di dalam perasaan. Mereka bebas berjalan seiring tanpa pernah memperhatikan aturan yang memenjarakan kita.
Jadi, siapa kita sebenarnya? Pernahkah kita bertemu di kehidupan sebelumnya? Jika iya, apa tujuannya kita bertemu lagi di penjara dunia ini? Untuk apa menciptakan pergolakan hati yang ujungnya selalu kabur dan tak jelas?
Ini semua begitu menyenangkan dan sekaligus menyakitkan. Oleh karena itu, mungkin, yang tersisa bagi kita hanyalah tertawa dan menangis pada saat yang bersamaan, sambil berjalan menuju tempat yang hanya kita berdua yang mengetahuinya. Tempat di mana segala paradoks ini tidak lagi terasa seperti sebuah lelucon yang mengikat kita.
---FIN---